HUMAN EMPOWERment


June 23, 2009, 3:29 pm
Filed under: masalah sosial

TINGKAT PARTISIPASI ANGKATAN KERJA (TPAK) PEREMPUAN
DI PROPINSI D.I. YOGYAKARTA TAHUN 2000

Pendahuluan
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) adalah proporsi penduduk usia kerja yang sudah bekerja dan atau masih mencari pekerjaan terhadap penduduk usia kerja yaitu 15 tahun ke atas. Sebagai salah satu indikator dalam analisis ketenagakerjaan, TPAK mampu mengungkap seberapa besar animo penduduk usia kerja untuk ikut aktif dalam kegiatan yang bersifat ekonomis. Atau dapat juga dikatakan bahwa TPAK adalah cerminan tinggi rendahnya geliat tenaga kerja untuk masuk dalam pasar kerja. TPAK yang meningkat akan bermakna positif bila peningkatan TPAK terjadi karena peningkatan dari jumlah yang bekerja, bukan dari pencari kerja. Jika peningkatan yang terjadi karena share dari peningkatan pencari kerja, maka hal ini seharusnyalah menjadi kewaspadaan. Atau peningkatan TPAK yang terjadi karena masuknya usia sekolah dalam pasar kerja, tentu juga hal ini bukan hal yang positif.
Yang menarik dalam analisis ketenaga kerjaan adalah pola perempuan dalam memutuskan untuk masuk atau tidak dalam pasar kerja. Dikatakan menarik, karena perempuan ketika masuk dalam usia kerja dan lepas dari dunia pendidikan masih memiliki alternatif lain selain bekerja yaitu alternatif untuk mengurus rumah tangga. Belum lagi perempuan memiliki masa-masa terbatas ketika harus melakukan peran ganda dalam sektor publik maupun sektor domestik. Kodrat untuk melahirkan dan menyusui menjadi salah satu pertimbangan untuk masuk dalam pasar kerja. Berbeda dengan lak-laki dimana bekerja adalah satu-satunya tujuan ketikat tidak lagi terikat dalam dunia pendidikan.

TPAK Perempuan
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk Tahun 2000, TPAK perempuan kota di Propinsi DIY mencapai angka 53,07 persen, artinya bahwa dari setiap 100 perempuan kota usia 15 tahun ke atas ada sekitar 53 orang yang punya kecenderungan untuk masuk dalam pasar kerja. Dari sekitar 53 orang ini, 93,43 persennya telah memiliki pekerjaan sementara sisanya yaitu 6,57 persen lagi masih sedang mencari pekerjaan. Mereka yang masih sedang mencari pekerjaan ini dikategorikan sebagai penganggur terbuka, sehingga angka 6,57 persen ini disebut sebagai penganggur terbuka perempuan di kota.
Berbeda dengan kondisi di desa di Propinsi DIY, TPAK wanita desa mencapai angka 79,70 persen, artinya bahwa dari setiap 100 wanita usia 15 tahun ke atas ada sekitar 79 hingga 80 orang yang punya kecenderungan untuk masuk ke dalam pasar kerja. Sebagian dari mereka yang masuk dalam angkatan kerja ini ada yang telah bekerja yaitu mencapai 96,91 persen dan sisanya 3,09 persen lagi masih sedang mencari pekerjaan. Angka penganggur terbuka wanita desa di Propinsi DIY adalah sebesar 3,09 persen.
Tingginya angka TPAK Perempuan di desa disebabkan oleh banyaknya perempuan yang dapat diserap ke dalam lapangan pekerjaan dibanding di kota. Sifat pekerjaan di desa yang merupakan sektor agraris memberi peluang besar bagi perempuan desa untuk dapat ikut berpartisipasi dalam mencari nafkah. Pekerjaan di sektor agraris lebih bersifat fleksibel baik dalam hal jam kerja, performance, dan penuh kompromistis. Di desa, perempuan dapat pergi ke sawah setelah pekerjaan di rumah selesai, atau setelah mengurus semua keperluan anak, bahkan sangat mungkin pekerja wanita di desa untuk bekerja sambil mengasuh anak-anaknya (child rearing ataupun breast feeding). Sifat informal dari pekerjaan di sektor pertanian membuat perempuan mampu menyelaraskan fungsi publik dan domestik perempuan dengan seimbang tanpa harus mengorbankan salah satu.
Berbeda dengan pekerjaan-pekerjaan di kota yang lebih bersifat formal dan menuntut kualifikasi tertentu pada pekerjanya. Akibatnya perempuan tidak dengan leluasa untuk masuk ke dunia kerja. Sifat pekerjaan yang menuntut kedisiplinan yang tinggi, menuntut wanita untuk meninggalkan rumah dalam jangka waktu tetentu sesuai jam kerja yang relatif panjang, totalitas waktu dalam bekerja, dan berbagai peraturan yang mengekang dan membatasi perempuan sehingga terkadang harus mengorbankan perannya di sektor domestik. Perbedaan sifat pekerjaan di kota dan di desa ini menjadi penyebab utama mengapa TPAK perempuan di kota selalu lebih rendah dibanding perempuan di desa, bahkan pada setiap kelompok umur (lihat grafik).
Sumber : BPS, Hasil Sensus Penduduk 2000

TPAK menurut Kelompok Umur
Bila dicermati, TPAK per kelompok umur, masing-masing kelompok umur memberikan clue yang spesifik baik di kota maupun di desa. Untuk kelompok umur 15-19 , wanita yang berada pada kelompok ini mayoritas masih termasuk dalam usia pendidikan menengah (16-18) sehingga TPAK kelompok umur ini masih begitu rendah dibanding kelompok umur lain. Di kota, TPAK kelompok umur ini hanya 17,14 persen sedang di desa 32,34 persen. Tingginya TPAK perempuan ini lebih dikarenakan karena memang tingkat partisipasi sekolah (SLTA) perempuan di kota lebih tinggi dibanding di desa. Akibatnya perempuan kota relatif lebih sedikit yang masuk ke dalam pasar kerja.
Pada kelompok umur 20-24 tahun, yang nota bene masih merupakan usia pendidikan tinggi, menunjukkan peningkatan TPAK dibanding kelompok umur sebelumnya (15-19 tahun). Peningkatan yang terjadi di desa telihat sangat tajam, mencapai lebih dari 2 kali lipat , dari 32,34 persen untuk kelompok umur 15-19 tahun menjadi 75,53 persen untuk kelompok umur 20-24 tahun. Umumnya perempuan di desa yang telah menyelesaikan pendidikan menengahnya lebih banyak yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dan memilih bekerja atau mengurus rumah tangga. Sedang di kota, mayoritas perempuan masih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, karena aksessibilitas perempuan kota untuk masuk ke pendidikan tinggi jauh lebih tinggi dibanding perempuan desa. Hal ini dapat dimaklumi karena memang fasilitas pendidikan tinggi lebih banyak ada di kota, sehingga secara jarak, perempuan kota lebih mudah menjangkau. Inilah yang menyebabkan gap antara TPAK perempuan kota dan desa pada kelompok umur 20-24 begitu besar, dimana untuk perempuan kota sebesar 38,3 persen sedang perempuan desa sebesar 75,5 persen (lihat grafik).
Memasuki kelompok usia berikutnya yaitu 25-29, perempuan umumnya sudah memasuki usia purna pendidikan, khususnya di kota. Mulai usia ini umumnya perempuan kota sudah menyelesaikan pendidikan tingginya, sehingga tujuan utama selanjutnya adalah pasar kerja. Inilah yang menyebabkan mengapa terjadi peningkatan tajam TPAK perempuan di kota dari kelompok umur 20-24 ke kelompok umur 25-29. Pada kelompok umur 20-24 TPAK hanya 38,3 persen dan pada kelompok 25-29 naik menjadi 61,9 persen. Sementara di desa peningkatan TPAK dari kelompok umur tersebut tidak lagi terlalu tajam, yaitu dari 75,5 persen menjadi 84,7 persen.
Pada kelompok ini pula, khususnya di perkotaan, peningkatan angka TPAK juga berimplikasi pada tingkat fertilitas perempuan. Setelah perempuan keluar dari dunia pendidikan kemudian masuk ke dunia kerja apa lagi di sektor formal di perkotaan, sangat mungkin akan menunda usia kawin dan usia melahirkan pertama. Penundaan usia kawin juga akan memperpendek masa fertil perempuan untuk melahirkan.
Kelompok umur 30-34 dan 35-39, terus mengalami kenaikan dari kelompok umur sebelumnya, baik di desa maupun di kota. Di kota TPAK dua kelompok umur ini masih dikisaran 60 persen. Di desa, kelompok umur 30-34 TPAK nya sebesar 87,4persen sedang kelompok umur 35-39 sudah mencapai 90,5 persen .
Memasuki kelompok umur 40 an, dilihat dari grafik di atas, TPAK perempuan desa lebih dari 90 persen sedang di kota mencapai angka 70 persen. tampaknya pada kelompok umur 40-44 hingga kelompok umur 50-54 merupakan usia puncak produktivitas perempuan baik di kota maupun di desa. Pada kelompok ini, umumnya wanita mulai mapan untuk memasuki pasar kerja. Umumnya perempuan pada kelompok usia ini fokus utamanya sudah tidak lagi pada pengasuhan anak-anak. Anak-anak sudah cukup besar untuk ditinggal bekerja secara penuh, pola pengasuhan anak tidak lagi terfokus pada kontak fisik, sehingga perempuan dapat dengan leluasa untuk beraktifitas ekonomi.
Setelah melalui usia puncak produktivitas, TPAK perempuan akan mengalami tahapan declining mulai umur 55 tahun. Penurunan TPAK ini terjadi sangat alamiah. Perempuan karena faktor usia yang mulai menua, dan juga karena telah ada generasi penggati, beban ekonomi rumah tangga sebagian besar telah berganti pada anak-anak, tuntutan kebutuhan hidup keluarga perempuan juga tidak lagi sebesar ketika harus membesarkan dan mendidik anak-anak, dan berbagai sebab lain yang menyebabkan bergesernya peran ekonomi perempuan menyebabkan TPAK perempuan mulai menurun dan terus mengalami penurunan hingga usia diatas 65. Di desa penurunan terlihat signifikan dari kelompok umur 60-64 ke kelompok umur 65 tahun ke atas. Sedangkan di kota penurunan sudah terlihat nyata dari kelompok umur 50-54 ke kelompok umur 55-59.
Perempuan kota cenderung lebih cepat (dari sisi umur) keluar dari pasar kerja dibanding perempuan desa. Hal ini juga tidak lepas dari tipe pekerjaan yang ada di kota dan di desa. Sektor formal di perkotaan, memiliki batas usia produktif. Dan ketika sudah dianggap tidak produktif maka, perempuan memasuki usia pensiun. Berbeda dengan tipe pekerjaan di desa yang tidak mengenal usia pensiun. Perempuan di desa berhenti bekerja ketika secara fisik memang sudah tak mampu lagi bekerja. Meskipun mungkin produktivitas sudah menurun. Wanita pada kelompok umur 65 tahun ke atas yang masih bekerja lebih banyak merupakan pekerja keluarga.

Penutup
Pada dasarnya untuk mencermati pola TPAK perempuan, tak dapat dipisahkan dengan pola pendidikan perempuan. Semakin tinggi tingkat pendidikan perempuan bisa jadi menjadi pendorong peningkatan TPAK perempuan. Peran ganda perempuan tak dapat terelakkan lagi, dan sangat mungkin ini akan membawa implikasi pada pola pengasuhan generasi muda selanjutnya bahkan juga menuntut peran ganda laki-laki. Apakah peningkatan TPAK perempuan memberi makna terjadinya sebuah “kemajuan” dalam kehidupan perempuan? Masih perlu analisis yang lebih mendalam.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: