HUMAN EMPOWERment


DISKURSUS PASCA KEGAGALAN NEOLIBERALISME : MENATA KEMBALI PERAN NEGARA, PASAR DAN RAKYAT DALAM MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN SOSIAL
April 24, 2009, 6:58 am
Filed under: sosial politik, sosiologi

Pendahuluan

Beberapa waktu lalu, masyarakat dunia terhenyak oleh krisis keuangan global yang dimulai dari ambruknya ekonomi Amerika Serikat. Sungguh ironis, negara yang selama ini diklaim sebagai negara adidaya di bidang pertahanan, teknologi dan ekonomi ini ternyata tidak cukup berdaya untuk mencegah krisis ekonomi. Slogan-slogan gobalisasi dan pasar bebas yang mereka dengung-dengungkan selama ini di negara-negara maju lain termasuk negara-negara berkembang, bahkan tidak mampu menjawab solusi atas kejatuhan ekonomi mereka.

Banyak pengamat yang mengatakan bahwa krisis keuangan global adalah tanda berakhirnya ideologi neoliberalisme. Sehingga, dunia perlu menata kembali peran negara, pasar dan rakyat dalam menciptakan kesejahteraan sosial. Sinergitas antar tiga komponen ini diharapkan bisa membawa perubahan nyata dalam mewujudkan cita-cita kemakmuran suatu bangsa.

Tulisan ini bermaksud untuk menganalisa bagaimana kapitalisme dan globalisasi yang menjelma menjadi neoliberalisme ini menuai kegagalannya di setiap periode, serta bagaimana seharusnya peran negara, pasar dan rakyat dalam mengelola negara agar cita-cita kesejahteraan bisa tercapai. Tesis-tesis yang berkaitan dengan cita-cita neoliberalisme sebagai “The End of History” ternyata hanya isapan jempol dan bukti nyatanya telah terjawab saat ini.

Neoliberalisme dan Sederet Kegagalannya

Neoliberalisme dalam perbendaharaan kata kita, pada intinya adalah sama dengan globalisasi dan perdagangan bebas. Ideologi ini merupakan gerakan pemujaan terhadap pasar yang mempercayai bahwa tidak hanya produksi, distribusi dan konsumsi yang tunduk pada hukum pasar, tetapi seluruh aspek kehidupan. Mekanisme pasar tidak hanya mengatur ekonomi sebuah negara, tetapi juga mengatur ekonomi global.

Neoliberalisme adalah bentuk kapitalisme baru yang lebih radikal dan menghancurkan. Ramalan Marx bahwa kapitalisme akan ke luar menembus batas-batas nasional negara, telah tebukti sekarang. Dimana kekuatan pasar saat ini sebegitu dahsyatnya berjalan beriringan dengan kemajuan teknologi yang seakan menjadi alat pendukung suksesnya kapitalisme menembus negara-negara bangsa. Dengan dukungan canggihnya teknologi komputer dan informasi, proses perdagangan di dunia ini seakan tak mengenal batas negara. Dalam hitungan detik, kegiatan penjualan dan pembelian menjadi sebegitu mudahnya.

Kaum kapitalis menganggap bahwa kemajuan seperti inilah yang mereka harapkan, dan ini merupakan ciri kemakmuran global. Dimana semua manusia di muka bumi ini akan sejahtera di bawah naungan ideologi kapitalisme. Tapi, benarkah demikian ? Noreena Hertz[1] mengupas tuntas kiprah suksesnya ideologi neoliberalisme dalam menghancurkan tatanan masyarakat di dunia ini. Serta bagaimana efek kemiskinan global yang dirasakan negara-negara berkembang akibat kejahatan neoliberalisme.

Di sisi lain, Joseph E. Stiglitz[2] mengungkapkan dalam banyak bukunya, tentang kegagalan Wold Bank dan sekutunya (TNC, MNC, IMF dan lembaga-lembaga keuangan internasional lain) dalam membangun ekonomi negara-negara sedang berkembang. Saluran dana dan hutang adalah konsep yang mereka tawarkan kepada negara berkembang di dunia, bahwa dengan cara inilah derajat ekonomi suatu bangsa bisa mencapai titik kemajuan sempurna. Namun, kenyataan selalu berbicara lain. Lembaga-lembaga keuangan bentukkan sistem neoliberalisme itu justru merupakan pihak yang paling bertanggung jawab atas kemiskinan global yang terjadi di dunia ini. Bagaimana tidak, lebih dari separo penduduk di bumi ini hidup di bawah US $ 2 dollar pasca bantuan-bantuan hutang itu datang dari IMF. Maka tak heran, jika kemudian IMF akhirnya runtuh setelah dituding menjadi penyebab hancurnya perekonomian negara-negara Dunia Ketiga.

Berbicara mengenai neoliberalisme, maka sesungguhnya kita tak akan pernah lepas dari peran globalisasi sebagai alat neoliberalisme dalam memenangkan pertarungan ekonomi global. Kredo globalisasi yang banyak didengung-dengungkan oleh negara maju terhadap negara berkembang adalah bagaimana sebuah negara itu bisa memberikan pelung besar bagi perdagangan bebas untuk merangsang pertumbuhan ekonomi; pasar bebas yang tak terbatas, pemangkasan regulasi pemerintah dalam arti pemerintah tidak berhak melakukan campur tangan atas aktivitas ekonomi di negaranya sendiri, serta konsep pembangunan evolusioner yang diadopsi dari Barat.

Ironisnya, sedemikian lugunya negara dunia ketiga dalam menanggapi ‘pidato’ negara-negara neoliberal sehingga mau saja mengadopsi pembangunan dan globalisasi yang pada akhirnya justru menambah permasalahan di negaranya. Peran negara menjadi begitu kecil dalam mengatur perekonomia dan kesejahteraan warganya, sementara pasar bisa bergerak bebas menembus batas-batas negara untuk merampok kekayaan negara berkembang dan takluk di bawah kekuasaan ekonomi neoliberalisme.

Lenin, sahabat setia Karl Marx dan tokoh komunis nomor satu di dunia, dalam ramalannya meyakini bahwa kapitalisme yang yang saat ini menjelma menjadi neoliberalisme dan globalisasi akan berubah bentuk menjadi imperialisme baru di dunia. Ekonomi neoliberal adalah imperalisme baru yang telah menyebabkan kemiskinan dimana-mana. 2,8 Milyar penduduk di muka bumi ini yang negaranya hidup di bawah cengkraman neoliberalisme hidup dengan uang kurang dari US $ 2.

Kondisi ini akan menjadi ironis jika kita membandingkan penduduk miskin ini dengan seperlima penduduk bumi yang ternyata bisa menikmati 80 % dari pendapatan di dunia. Ketimpangan yang sangat mencolok antara negara miskin dan negara kaya. Ketidakadilan ekonomi yang diciptakan Barat sebagai penganut ekonomi neoliberalisme tidak hanya menyebabkan ketimpangan di negara berkembang tetapi juga di negara-negara maju. Ketimpangan-ketimpangan ini banyak dikupas tuntas oleh tokoh-tokoh ekonomi. Mulai dari Paul Krugman, sampai pemenang hadiah Nobel ekonomi Joseph Stiglitz.

Contoh kasus di negara berkembang. Indonesia, selama 20 tahun di bawah rezim penguasa menerapkan sistem perdagangan bebas, yang ternyata pada akhirnya berimbas pada krisis ekonomi berkepanjangan sampai sekarang. Ekonomi Indonesia pada tahun 1998 runtuh, disusul bangkrutnya banyak perusahaan-perusahaan besar, buruh-buruh kehilangan pekerjaan, dan puncaknya adalah amarah rakyat yang menuntut turunnya rezim penguasa penganut ekonomi neoliberal itu. IMF yang mencoba mencari mangsa baru ke Indonesia menawarkan banyak bantuan hutang ke Indonesia melalui rezim pengganti Orde Baru. Dan ini justru semakin memperparah kondisi perekonomian kita baik di sektor finansial maupun riil.

Noreena Hertz dalam artikelnya[3] menjabarkan bagaimana negara Bhutan yang tadinya mengisolasi diri dari modernisasi ternyata telah menjadi mangsa baru neoliberalisme. Dulu, sebelum neoliberalisme itu memberangus budaya mereka, Bhutan adalah negara makmur meski pendapatan mereka jauh dari sisi GNP per kapita. Mayoritas mereka giat dalam mengelola pertanian subsisten. Transaksi melalui barter adalah hal wajar disana, dan semua itu tidak menjadikan masayarakat Bhutan kekurangan sandang, papan dan pangan.

Keberhasilan Bhutan menurut Noreena adalah karena kekonsistenan mereka dalam memegang teguh nilai-nilai tradisional mereka yang di dasarkan pada perkembangan ekologis, etis dan spiritual. Setidaknya ini terlihat dari larangan pemerintah bagi turis untuk memberikan pensil ataupun permen pada anak-anak Bhutan dengan tujuan agar anak-anak Bhutan tidak tumbuh dengan kebiasaan mengemis. Bahkan, pengdagangan kayu juga dilarang karena akan merusak lingkungan, sebuah paham Budha yang dianut masyarakat Bhutan yang menempatkan ekologi pada sisi yang penting. Pemerintah juga tidak terburu-buru dalam mengadopsi modernisasi dan pembangunan yang ditawarkan negara-negara Barat.

Namun demikian, sinyal kapitalisme yang menjelma menjadi neoliberalisme ini ternyata mampu menembus budaya Bhutan. Noreena menggambarkan bagaimana bola basket telah menjadi pengganti olahraga panahan sebagai olahraga nasional, yang ini semua bermula dari kaset video NBA yang dikirimkan dari New York kepada Sang Raja Bhutan. Boogie Woogie, sebuah permainana yang disponsori Colgote menjadi saingan utama pemandangan Himalaya, Nightclubs mempersandingkan N’Synnc dan Britney Spears dengan Wham and Culture Club dari era 80-an. Perangkat sistem telekomunikasi telah banyak dikenal, email mengganti surat yang ditulis tangan. Akibat ini, istri Sang Raja sampai-samapai harus mencanangkan program layanan surat gratis selama sepuluh hari untuk memerangi kemajuan teknologi ini. Tidak hanya itu, hanya untuk mendapatkan mata uang asing, petani-petani Bhutan menjual hasil pertanian mereka ke negara tetangga India dan Bangladesh.

Bhutan, sperti penjelasan Noreena adalah Shangri-La terakhir, yang tennyata harus tunduk juga pada kekuasaan neoliberlaisme. Negara itu harus bertekuk lutut kepada pemimpin-pemimpin Barat dan sudah tidak mampu lagi melanjutkan kebijakan-kebijakan isolasinya.

Indonesia dan Bhutan adalah contoh kecil dari produk neoliberalisme. Masih banyak negara-negara lain yang turut menjadi korban ideologi ini. Afghanistan, Amerika Latin, Irak, adalah contoh negara boneka ideologi neoliberalisme yang lain. Yang pada prakteknya, ekonomi mereka hancur total karena tunduk pada kekuasaan Barat.

Kegagalan neoliberalisme menjadi begitu nyata ketika ketimpangan yang tadinya terjadi di negara berkembang sekarang justru menyerang pencetusnya, negara adidaya Amerika Serikat. Perekonomian mereka collaps pasca jatuhnya Lehman Brothers, lembaga keuangan yang bergerak dibidang penyaluran kredit kepemilikan rumah. Jatuhnya Lehman Brothers ini seolah seperti efek kartu domino yang menimpa habis perusahaan besar dan lembaga keuangan di Amerika Serikat. Seketika itu juga, Amerika mengumumkan terjadinya krisis ekonomi besar. Bahkan Amerika pun tak malu lagi meminta bantuan kepada musuh ekonominya, China, karena tak mampu mengatasi krisis. Banyak pengamat menilai, inilah awal dari berakhirnya negara adidaya AS dengan pasar bebasnya.

Krisis Ekonomi Global: Kegagalan Besar AS dan Ideologi Neoliberalisme

Kehancuran Lehman Brothers sebagai perusahaan sekuritas yang berusia 158 tahun dan milik keluarga Yahudi ini, diyakini sebagai akar krisis ekonomi AS. Hal ini merupakan pukulan telak bagi ekonomi AS, karena ambruknya Lehman Brothers ini berimplikasi pada rontoknya perusahaan-perusahaan keuangan dan bank-bank besar di AS. Lehman adalah salah satu bank penyalur kredit kepemilikan rumah yang menjamin hampir separuh dari total kredit perumahan di AS.

Lehman Brothers, menyandang status sebagai bank investasi terbesar keempat di AS dan sudah kesohor ke belahan dunia manapun, dipenuhi dengan karyawan-karyawan cerdik, licik dan agresif, tapi tak mampu menahan gelombang keruntuhan di pasar keuangan. Dampak paling nyata dari bangkrutnya Lehman Brothers adalah meningkatnya jumlah pengangguran di AS, bahkan di berbagai belahan dunia. Di seluruh dunia, jumlah pegawai jaringan perusahaan Lehman Brothers mencapai 25.000 orang. Pada bulan Agustus 2008, Lehman sudah mengumumkan akan memecat 5 persen dari jumlah pegawainya atau sekitar 1.500 orang[4].

Krisis keuangan di AS ini juga telah menimbulkan efek domino yang sangat luas dampaknya pada sektor perekonomian di negara-negara lain, termasuk Indonesia. Harga minyak mentah secara otomatis turun dari 115, 56 dollar per barel menjadi 99.06 dollar per barel. Tidak hanya itu, angka pengangguran di AS juga membengkak sebesar 6,1 % sejak Agustus 2008 lalu. Tingkat konsumsi minyak di AS juga mencapai titik terendah dalam lima tahun.

Banyak analis berpendapat, bahkan mulai dari sinilah, detik-detik kehancuran negara adidaya AS yang melandaskan perekonomiannya pada sistem neoliberalisme. Wajah baru kapitalisme dan globalisasinya sebagai strategi untuk memenangkan ideologi neoliberal. Butuh waktu yang panjang bagi AS untuk memperbaiki kondisi perekonomiannya yang carut marut. Untuk mengembalikan kejayaan ekonomi mereka di mata dunia, menjadi begitu sulit. Karena pilar-pilar ekonomi AS yang bersandar pada lembaga-lembaga keuangan dan bank-bank besar telah hancur satu per satu, tak kuat menanggung beban perekonomian.

Pihak yang paling merasakan dampak ini tentu saja adalah masayraakt miskin di berbagai belahan negara di dunia. Betapa tidak, akibat krisis keuangan global di AS, beberapa perusahaan besar di Indonesai gulung tikar dan menyebabkan banyak buruh kehilangan pekerjaan. Ujung-ujungnya adalah protes besar solidaritas buruh dalam demo-demonya beberapa waktu lalu.

Dari sisi ekonomi, lesunya perekonomian akan menghambat laju investasi ekonomi. Angka pengangguran di AS dan negara-neagra lain meningkat pesat, dan daya beli masyarakat pun menurun. Pada kondisi seperti ini, biaya sosial di tiap negara tentu saja akan membengkak dan program penanggulangan kemiskinan di negara-negara berkembang menemui hambatan besar. Efek domino ini akan menyebar luas hingga ke sektor pendidikan, dimana nantinya pasti akan banyak anak putus sekolah karena biaya pendidikan yang relatif tinggi, di sektor kesehatan juga bisa terjadi pengurangan pelayanan kesehatan bagi orang-orang miskin.

Pada sub bab Neoliberalisme dan Kegagalannya telah dipaparkan bagaimana ideologi ini telah menjadi bentuk imperialisme baru yang menghancur sendi-sendi kehidupan sosial dan ekonomi dunia. Bahkan Marx pun sejak awal abad 20 sudah memprediksi bahwa pada saatnya nanti kapitalisme akan menemui kehancuran akibat kerakusannya sendiri.

Pertarungan Kapitalisme dan Komunisme di era Perang Dingin lalu dimenangkan oleh AS sebagai simbol kapitalis dan kekalahan Rusia sebagai simbol Komunis. AS pun pasca Perang Dingin menunjukkan taringnya dengan kemajuan teknologi dan globalisasi yang membuat negaranya mencapai tingkat kemakmuran tertinggi di seluruh dunia. Namun, tesis Karl Marx menjelma menjadi kenyataan. Marx memaparkan bahwa akumulasi modal yang berlebihan justru akan membunuh kapitalisme itu sendiri. Krisis keuangan global adalah simbol hancurnya ideologi kapitalisme dan neoliberalisme yang selama ini dibanggakan oleh AS sebagai ideologi yang paling bisa memakmurkan dunia.

Peran Negara, Pasar dan Rakyat

Kegagalan AS dalam menciptakan tatanan ekonomi dunia seharusnya menjadi pelajaran penting bagi negara-negara lain bagaimana seharusnya membangun kesejahteraan sosial. Orientasi pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan ekonomi seperti yang tercantum dalam dogma kapitalisme telah terbukti tidak mampu menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat dunia, serta tidak bisa mengangkat perekonomian negara-negara Dunia Ketiga. Paradigma ini harus diubah jika kesejahteraan sosial adalah tujuan utama pembangunan.

Maka disinilah peran negara, pasar dan rakyat menjadi penting. Ketiga komponen ini jika berjalan sinergis sesuai perannya masing-masing maka akan bisa membawa perubahan besar dalam kehidupan benegara. Dan peran tiga komponen ini tidak pernah lepas dari teori-teori yang dibangun oleh Adam Smith, Keynesian, Karl Marx, dan Neoliberal.

Karl Marx memandang sebuah negara sebagai alat atau instrumen yang berkuasa untuk mengukuhkan dominasinya terhadap kelas yang tertindas, dalam hal ini yang dimaksud oleh Marx adalah buruh/pekerja. Negara adalah organ bagi dominasi kelas, organ bagi penindasan kelas terhadap kelas yang lainnya, yang bertujuan untuk menciptakan keteraturan yang di dalamnya melegalisasi dan melanggengkan penindasan melalui mekanisme pelunakan ketegangan-ketegangan antar kelas[5]. Pandangan Marx terhadap pasar juga tidak jauh beda dengan pandangannya terhadap negara. Dua-duanya adalah alat dominasi.

Pandangan Marx ini beda jauh dengan pandangan Adam Smith tentang pasar dan negara. Bagi Smith, pasar harus diberikan kebebasan seluas mungkin untuk mengembangkan ekspansinya. Menurutnya, ekonomi pasar akan berkembang dengan bebas jika negara membiarkan dan tidak turut campur dalam urusan pasar. Peran pemerintah harus ditekan seminimal mungkin untuk menjamin kelancaran mekanisme ekonomi pasar[6].

Smith menjelaskan lebih lanjut bahwa tekanan minimal pada peran pemerintah terhadap pasar tetap dengan tidak menafikan peran lain dari negara. Misalnya dalam membuat regulasi. Di dalam sistem liberal, persaingan dibiarkan terbuka bagi siapapun yang mampu untuk berkompetisi. Dan disinilah peran negara dalam fungsinya sebagai pembuat regulasi. Dalam hal ini negara bertugas menyediakan aturan hukum untuk kontrak, pertahanan, dan keamanan[7]. Negara hanya menjadi “stempel” bagi mekanisme pasar.

Menurut Smith, negara hubungannya dengan pasar memiliki tiga tugas utama, yaitu melakukan proteksi masyarakat dari pelanggaran yang dilakukan masyarakat lainnya. Kedua, proteksi itu dimungkinkan sejauh melindungi dari tekanan atau ancaman individu masyarakat atas masyarakat lain; negara juga menjaga kondisi agar tetap ada dalam keadilan. Ketiga, menjaga institusi-institusi publik agar tetap aman dari tindak kerusakan yang dilakukan oleh komunitas[8].

Dalam perkembangan sejarah selanjutnya, saat ini kembali gagasan liberalisme dalam bentuknya yang baru atau yang dikenal dengan Neoliberalisme. Kesepakatan Washington (Washington Consensus) merupakan menifestasi dari pembelaan ekonomi privat terutama yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar yang mengontrol dan menguasai ekonomi internasional. Pokok-pokok ajaran neoliberalisme tergambar pada: pertama, biarkan pasar bekerja, kedua, kurangi pemborosan dengan memangkas semua anggaran negara yang tidak produktif seperti subsidi pelayanan sosial, ketiga, lakukan deregulasi ekonomi, keempat, keyakinan terhadap privatisasi, kelima, keyakinan pada tanggung jawab individual[9]. Debut neoliberalisme begitu melejit pada masa rezim Reagan – Tatcherisme di Amerika dan Inggris.

Lain halnya dengan Marx dan Smith, Keynes mengangap bahwa peran pemerintah dalam mengarahkan mekanisme pasar adalah suatu keniscayaan. Campur tangan negara sangat diperlukan apabila mekanisme pasar tidak berjalan dengan semestinya. Bila terjadi pengangguran misalnya, pemerintah dapat memperbesar pengeluarannya untuk proyek-proyek padat karya. Begitu juga ketika harga-harga naik, pemerintah bisa menarik jumlah uang yang beredar dengan mengenakan pajak yang lebih tinggi sehingga inflasi yang tak terkendali tidak sampai terjadi[10].

Pasca jatuhnya ekonomi AS, kondisi ekonomi dunia mengalami guncangan yang sangat dahsyat. Seperti yang telah dijelaskan di atas, AS sebagai penganut ideologi pasar neoliberalisme telah menjadi simbol kehancuran dari ideologi yang diyakini sendiri. Kebebasan pasar yang selama ini mereka jalani tidak mampu menjawab krisis. Pertanyaan selanjutnya, ideologi apakah yang selanjutnya akan berkembang pasca neoliberalisme ? Kemudian, apakah jika nantinya akan ada perubahan ideologi dunia, bisakah ideologi pengganti itu menjawab dan mengatasi krisis ? Bagaimana peran negara dan pasar dalam

Pasca Neoliberalisme

Pangan, sandang, kesehatan, pendidikan adalah hajat hidup manusia yang paling mendasar. Ketika hal-hal itu tidak terpenuhi, maka manusia tidak akan mampu bertahan hidup. Dan jika hal itu terjadi pada banyak orang dalam suatu negara, maka yang terjadi adalah kemiskinan. Kemiskinan adalah masalah sosial. Kemiskinan bukan tak punya sebab, ada banyak faktor yang mempengaruhi. Kemiskinan struktural yang menjadi penyakit dewasa ini adalah karena struktur yang ada tak memberi ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan akses pekerjaan. Paradigma ekonomi yang dianut suatu negara sangat menentukan perilaku sistem dalam mensejahterakan rakyatnya.

Pasca kejatuhan ideologi neoliberalisme di AS yang memicu krisis ekonomi global, memperlihatkan kepada kita bagaimana seharusnya peran negara dan pasar dalam mensejahterakan mayarakat. Negara bisa menjadi instrumen yang tunduk pada mekanisme pasar apabila tak punya kapabilitas kepemimpinan yang bagus. Dan kondisi ini pada akhirnya akan memicu permasalahn di masayrakat, dimana masyarakat menjadi pihak yang termarginalkan karena negara yang notabene adalah pelindung rayat, dalam mengambil kebijakan selalu lebih menguntungkan pasar.

Kerakusan pasar untuk menguasai uang di backing oleh kekuatan negara telah menemui titik nadirnya. Dan meninggalkan serentetan masalah yang mampu mereka jawab pula solusinya. Cita-cita kemakmuran di bawah mekanisme pasar yang diimpikan negara seperti AS seolah menjadi euphoria. Lantas, apa yang akan muncul kemudian pasca neoliberal ?

Kita tak pernah bisa memprediksi dengan tepat hal apa yang akan terjadi setelah neoliberalisme. Apakah mungkin seperti yang digambarkan Karl Marx, bahwa ketika kapitalisme menemui kehancurannya, maka dunia akan menengok ke komunisme dan sosialisme. Penguasaan kapital yang besar-besaran dibarengi dengan kemajuan alat-alat produksi berteknologi canggih menuntut pergantian tenaga-tenaga buruh oleh mesin-mesin. Akibat itu selalu menimbulkan endapan pengangguran yang memungkinkan pengusaha untuk memperketat syarat kerja buruh dan menurunkan upah buruh yang sedang bekerja. Dengan bertambah besarnya kapital, tumbuh juga penghisapan, penderitaan, penindasan, perbudakan yang menimbulkan kemarahan kelas. Pada gilirannya akan terjadi revolusi, dan kaum kapitalis tengah menggali liang kuburnya sendiri[11]. Pada akhirnya, sistem perekonomian liberal-kapitalis harus digantikan dengan sistem lain yang lebih memperhatikan masalah pemerataan bagi semua untuk semua, yaitu sistem perekonomian sosialis-komunis.

Namun, bisa jadi juga pengaruh Keneysian akan mencuat di tengah krisis keuangan global. Welfare State muncul di Eropa dan AS pada masa adab ke 19 yang tujuannya adalah untuk mengubah wajah kapitalis menjadi lebih manusiawi lagi. Negara punya peran kuat untuk melakukan regulasi terhadap mekanisme pasar. Pasar dibiarkan menjalankan mekaismenya dengan konsekuensi harus mengalokasikan pendapatannya untuk kesejahteraan sosial. Dana dari pajak yang tinggi itulah yang nantinya akan digunakan untuk pembiayaan jaminan dan pelayanan sosial.

Meskipun secara ekonomi jangka pendek pembangunan kesejahteraan sosial adalah pendekatan yang tidak profitable, secara sosial politik makro jangka panjang ia dapat menjadi investasi sosial yang menguntungkan. Pembangunan kesejahteraan sosial dapat meredam kesenjangan dan kecemburuan sosial yang merupakan prasyarat dan rahasia tercapainya pertumbuhan ekonomi dan pemerataan yang berkesinambungan, stabilitas politik dan kesejahteraan bersama.

Selain dua pandangan di atas, ada lagi yang alternatif lain yang saat ini banyak juga dilirik oleh pengusaha dalam dan luar negeri. Ekonomi berbasis syari’ah. Bisnis syariah telah dua kali membuktikan kekuatannya dalam menghadapi gelombang krisis ekonomi. Di Indonesia, bank-bank syari’ah yang ada ternyata selamat dari tempaan krisis ekonomi tahun 1998 tanpa bantuan pemerintah. Bahkan bank-bank syariah ini juga mampu tumbuh 30 persen hingga 50 persen setiap tahunnya. Saat krisis ekonomi globalpun, bank syari’ah tidak pernah terpengaruh seperti bank-bank lain yang akhirnya harus gulung tikar.

Krisis keuangan global telah menjadi satu bahan pelajaran penting bagi pasar. Bahwa kerakusan ekonomi ternyata hanya akan berbuah pada kehancuran. Tesis Fukuyama yang memaparkan bahwa neoliberalisme adalah “The End of History” tidak berlaku disini. Yang terjadi sekarang adalah dekonstruksi paradigma neoliberalisme, bahwa neoliberalisme ternyata telah hancur dan tidak mampu menjawab krisis. Rekonstruksi paradigma apalagi yang akan muncul setelah neoliberalisme, apakah itu komunis-sosialis akan menggejala lagi, ataukah welfare state yang akan menjadi rujukan negara-negara dunia, ataukah ekonomi syariah yang diam-diam tapi mampu bertahan kuat menghadapi gelombang krisis ? q

Daftar Referensi

Ahmad Musthafa. Negara Vis a Vis Pasar : Antara Krisis Legitimasi dan Peran Intelektual. Http

Deliarnov, 2003. Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Jakarta: Rajawali Pers

Fakih, Mansour. 2003. Bebas dari Neoliberalisme. Yogyakarta: Insist

Hertz, Noreena. 2003. Hidup Di Dunia Material Munculnya Gelombang Neoliberalisme. Neoliberalisme. Yogyakarta : Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas.

James A. Caporaso dan David P.Lavine, , 1992. Theories of Political Economy. New York: Cambridge University Press

Kebangkrutan Lehman & Krisis Kapitalisme. http://www.wordpress.com/2008/09/19/kebangrutan-lehman-dan-krisis-kapitalisme-48k

Paul Heinz Koestero, 1987. Tokoh-tokoh Ekonomi Mengubah Dunia: Pemikiran-pemikiran yang Mempengaruhi Hidup Kita. Jakarta: Gramedia

Stiglitz, Joseph E. 2003. Globalisasi dan Kegagalan Lembaga-Lembaga Keuangan Internasional. Jakarta: PT. Ina Publikatama


[1] Hertz, Noreena. 2003. Hidup Di Dunia Material Munculnya Gelombang Neoliberalisme. Neoliberalisme. Yogyakarta : Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas.

[2] Stiglitz, Joseph E. 2003. Globalisasi dan Kegagalan Lembaga-Lembaga Keuangan Internasional. Jakarta: PT. Ina Publikatama

[3] Hertz, Noreena. Op, Cit. Hlm. 13

[5] James A. Caporaso dan David P.Lavine, Theories of Political Economy, (New York: Cambridge University Press, 1992), h. 74

[6] Paul Heinz Koestero, Tokoh-tokoh Ekonomi Mengubah Dunia: Pemikiran-pemikiran yang Mempengaruhi Hidup Kita, (Jakarta: Gramedia, 1987), h. 8

[7] Mansour Fakih, Bebas dari Neoliberalisme, (Yogyakarta: Insist, 2003), h. 6

[8] James A. Caporaso dan David P.Lavine, Op.cit., h. 44

[9] Ahmad Musthafa. Negara Vis a Vis Pasar : Antara Krisis Legitimasi dan Peran Intelektual. Http

[10] Deliarnov, 2003. Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Jakarta: Rajawali Pers

[11] Paul Heinz Koestero, Op, Cit., hlm. 82


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: